Banyak orang melihat perbedaan besar antara Juventus pra-calciopoli dan pasca-calciopoli. Juventus pra-calciopoli adalah tim tangguh pantang menyerah yang selalu punya 1.001 cara kembali dari keadaan tertinggal untuk keluar sebagai pemenang. Salah satu "tersangka" di balik ketangguhan mereka itu adalah sang guru transfer andal, Luciano Moggi. Sebaliknya, "Si Nyonya Tua" pasca-calciopoli adalah tim rapuh yang inkonsistensi. "Tersangka" utamanya adalah, Alessio Secco.
Karier Moggi di Juventus dimulai pada 1994. Sebelumnya dia sempat bekerja untuk beberapa tim Italia lainnya seperti Torino, Napoli, Roma dan Lazio. Sejak itu, ia berhasil membangun karier di tim "Si Nyonya Tua" sebagai salah satu juru transfer terbaik di Italia dengan sederetan cerita suksesnya mendatangkan pemain-pemain muda potensial atau bintang besar sepak bola bermental juara dengan harga miring.
Di musim pertamanya, ia sukses membantu Juventus merekrut nama-nama seperti Alessio Tacchinardi, Ciro Ferrara, Didier Deschamps dan Paulo Sousa. Para pemain baru tersebut, seperti yang kita ketahui, berhasil menjadi tumpuan klub selama bertahun-tahun lamanya dan mendatangkan berbagai trofi bergengsi ke klub asal Turin tersebut.
Ferrara dianggap sebagai salah satu bek terbaik Italia di generasinya, di samping nama-nama besar lain seperti Franco Baresi, Alessandro Costacurta dan Paolo Maldini. Ia juga sukses mematri tempat di tim utama Juventus selama sepuluh tahun ke depan dan sempat menjadi kapten tim pada musim 1995/1996. Sementara itu, Deschamps adalah kapten Perancis yang sukses membawa timnya menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Hal itu jelas bisa menunjukkan bagaimana kualitas dan kapabilitas Deschamps di lapangan.
"Pada tahun 1999 saya mengintai pemain Marseille dan saya menyadari pemandu bakat Inter juga berada di sana untuk mengincar pemain yang sama, lalu saya membuat mereka salah arah. Secara sengaja saya mengeraskan suara saya, memuji penampilan Cyril Domoraud agar mereka dengar. Tak selang satu minggu, Inter dihubungkan media dengan pemain itu, dan berakhir dengan benar-benar membelinya, dan apa yang terjadi, Cyril tetaplah pemain kelas semenjana," tutur Moggi suatu hari.
Pada musim keduanya, Moggi dan staf direksi Juventus mengeluarkan keputusan berani dengan melego sang fantasista Roberto Baggio ke AC Milan. Mereka mengambil keputusan itu berdasarkan penampilan cemerlang Alessandro Del Piero yang baru dipromosikan satu musim sebelumnya. Ia dianggap bisa berkembang lebih baik lagi dan menjadi tumpuan lini serang tim untuk bertahun-tahun lamanya. Hal itu sama sekali tak salah, saat ini Del Piero adalah pencetak gol terbanyak Juventus sepanjang masa dengan total torehan 285 gol.